makalah fungsi pendidikan dalam manusia sebagai makhluk biologis

Taut Posted on Updated on

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah “Filsafat Pendidikan”. Sholawat serta salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad Saw, keluarganya, sahabatnya, serta pengikutnya sampai akhir zaman.

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas terstruktur pada mata kuliah Filsafat Pendidikan, dengan harapan berguna bagi penyusun dan bagi pembaca pada umumnya.

Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran yang positif dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini dan pembuatan makala berikutnya.

Dalam penulisan makalah ini saya ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan pembuatan makalah ini, khususnya kepada Bapak Drs. Nasihudin Pono, M.Pd yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dorongan dalam rangka penyelesaian penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

 

                                                                                    Cirebon, 4 April 2012

                                                                                                Penyusun

 

 

 

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. A.  LATAR BELAKANG

Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mempunyai tujuan, tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan kemampuan atau perilaku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan kegiatan belajar.

Fungsi pendidikan berdasarkan Undang-undang Sisdiknas No. 20 Thun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

pendidikan dalam arti khusus  hanya dibatasi sebagai usaha orang dewasa dalam membimbing anak yang belum dewasa sehingga mencapai kedewasaannya.

  1. B.  RUMUSAN MASALAH
    1. Apa makna pendidikan ?
    2. Apa fungsi dari pendidikan?
    3. Apa fungsi pendidikan dalam hidup manusia?
  2. C.  TUJUAN PEMBAHASAN

Tujuan pembahasan makala ini adalah agar kita dapat mengetahui apa makna dari suatu pembelajaran, serta fungsi dan manfaat bagi manusai sebagai makhluk biologis. Dan diharapkan makala ini dapat memberi manfaat bagi penyusun serta bagi teman-teman semua yang sedang mencari ilmu, semoga makalah ini bisa bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

FUNGSI PENDIDIKAN DALAM HIDUP MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BIOLOGIS

  1. A.    Kehidupan Manusia Sebagai Makhluk Biologis

Hakekat manusia adalah sebagai berikut :

1. Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

2. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.

3. yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.

4. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.

5. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati

6. Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas

7. Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.

8. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

Perkembangan merupakan suatu proses sosialisasi dalam bentuk irnitasi yang berlangsung dengan adaptasi (penyesuaian) dan seleksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia adalah keturunan, lingkungan, dan manusia itu sendiri.

Fase-fase perkembangan menurut beberapa ahli psikologi :

a.

Menurut Aristoteles

 

1).

0,0-7,0 : masa anak kecil

 

2).

7,0-14,0 : masa anak

 

3).

14,0-21,0 : masa remaja

   

b.

Menurut Mantessori

 

1).

0,0-7,0 : periode penemuan dan pengaturan dunia luar.

 

2).

7,0-12,0 : periode rencana abstrak

 

3).

12,0-18,0 : periode penemuan diri dan kepekaan sosial

 

4).

18,0- : periode pendidikan tinggi

   

c.

Menurut Comenius

 

1).

0,0-6,0 : scola matema

 

2).

6,0-12,0 : scolavernatulata

 

3).

12,0-18,0 : scola latina

 

4).

18,0-24,0 : acodemia

   

d.

Menurut J.J Rousseau

 

1)

0,0-2,0 : masa asuhan

 

2).

2,0-12,0 : masa pendidikan jasmani dan latihan panca indera

 

3).

12,0-15,0 : masa pendidikan akal.

 

4).

15,0-20,0 : masa pembentukan watak dan pendidikan agama

   

e.

Menurut Oswald Kroch

 

1).

masa anak-anak

 

2).

masa bersekolah

 

3).

masa kematanga.

   

f.

Menurut Elizabeth B. Hurlock

 

1).

periode pre natal

 

2).

masa oral

 

3).

masa bayi

 

4).

masa anak-anak

 

5).

masa pubertas

            Hukum tempo perkembangan menyatakan bahwa tiap-tiap anak memiliki tempo perkembangan yang berbeda. Anak juga memiliki masa peka, yaitu suatu masa di mana suatu organ atau unsur psikologis anak mengalami perkembangan yang sebaik-baiknya.

Bagi seorang pendidik, mengetahui perkembangan anak diperlukan dalam membimbing anak sesuai dengan perkembangannya[1]

Orang tua ialah merupakan pendidik yang utama dan pertama dalam hal penanaman keimanan bagi anaknya. Karena hubungan biologis yang kuat dan orang tua disebut pula pendidik yang utama, karena besar sekali pengaruhnya. Disebut pendidik pertama, karena merekalah yang pertama mendidik anaknya. Sekolah, pesantren, dan guru agama yang diundang ke rumah adalah intuisi penididikan dan orang yang sekedar membantu orang tua. Menyerahkan seratus persen pendidikan terutama tentang keimanan bagi anak-anak kita ke sekolah, ke pesantren, dan atau tindakan yang berbahaya. Sebab, sekolah, pesantren, dan guru agama yang diundang itu tidak akan mampu melakukan pendidikan keimanan tersebut. Selain itu, keimanan sangatlah diperlukan oleh anak-anak kita untuk menjadi landasan bagi akhlak mulia. Keimanan diperlukan agar akhlak anak remaja kita tidak merosot, sedangkan keberimanan diperlukan agar anak-anak itu mampu hidup tentram serta konstruktif pada zaman global nanti. Jadi, pendidikan agama di dalam keluarga sangatlah perlu, karena keluargalah satu-satunya institusi pendidikan yang mampu melakukan pendidikan keberimanan bagi anak-anaknya. Melakukan pendidikan agama dalam keluarga, berarti ikut berusaha menyelamatkan generasi muda. Dengan demikian, berarti keluarga itu berusaha menyelamatkan bangsa[2]

  1. B.     Makna pendidikan

Makna pendidikan dapat dilihat dalam pengertian secara khusus dan pengertian secara luas. Dalam arti khusus langeveld mengemukakan bahwa pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya .

Selanjutnya Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati  (1991 : 70) mengemukakan beberapa definisi pendidikan sebagai berikut :

a)      Menurut prof. hoogevld, mendidik adalah membantu anak supaya kelak anak itu cakap menyeleseikan tugas hidupnya atas tanggung jawab sendiri .

b)      Menurut prof. s. brojonegoro, mendidik berarti memberi  tuntutan  kepada manusia yang belum dewasa dalam pertumbuhan dan perkembangan, sampai tercapainya kedewasaan dalam arti rohani dan jasmani.

Jadi, pendidikan dalam arti khusus  hanya dibatasi sebagai usaha orang dewasa dalam membimbing anak yang belum dewasa sehingga mencapai kedewasaannya.

Dari pengertian diatas ada juga beberapa prinsip dasar tentang pendidikan yang akan di laksanakan :

1)      Pendidikan berlangsung seumur hidup. Usaha pendidikan sejak manusia lahir dari kandungan ibunya  sampai tutup usia, sepanjang mampu untuk menerima pengaruh dan dapat mengembangkan dirinya .

2)      Tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab semua manusia yaitu tanggung jawab orang tua, masyarakat,  dan tanggung jawab pemerintah.

3)      Bagi manusia pendidikan merupakan suatu keharusan karena dengan pendidikan manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang berkembang.[3]

Telah dikemukakan bahwa tidak semua masalah kependidikan dapat di pecahkan dengan menggunakan metode ilmiah semata. Banyak diantara masalah-masalah kependidikan tersebut yang merupakan pertanyaan-pertanyaan filosofis, yang memerlukan pendekatan filosofis pula dalam pemecahannya .[4]

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia yang memikirkan bagaimana menjalani kehidupan ini untuk mempertahankan kehidupan manusia yang mengemban tugas dari sang kholiq untuk beribadah. Manusia sebagai makhluk yang diberi kelebihan oleh  Allah swt dengan suatu bentuk akal pada diri manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk Allah yang lain dalam kehidupannya. Untuk mengolah akal pikirannya dierlukan suatu pola pendidikan melalui suatu pembelajaran.

  1. C.    Fungsi Pendidikan dalam hidup manusia

Fungsi pendidikan berdasarkan Undang-undang Sisdiknas No. 20 Thun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.[5]

Jadi, fungsi pendidikan dalam hidup manusia seperti contoh diatas tidak hanya mendapatkan hal duniawi saja tetapi pendidikan pun menjadi bekal di akherat nanti.

Seperti yang sudah dituliskan pada prinsip pendidikan yang ketiga bahwa manisia adalah makluk yang tumbuh dan berkembang dan ingin mencapai kehidupan yang optimal. Selama manusia berusaha meningkatka kehidupannya, baik dalam meningkatkan keterampilannya, secara sadar atau tidak sadar, maka selama itulah pendidikan masih berjalan terus merupakan salah satu fungsi pendidikan dalam hidup manusai. Dalam fungsi pendidikan pun ada yang bersifat sepanjang hayat, maksudnya pendidikan sepanjang hayat merupakan ataspendidikan yang cocok bagi orang-orang yang hidup dalam masyarakat yang saling mempengaruhi pada zaman globalisasi ini. Setiap manusia dituntut menyesuaikan dirinya terus menerus terhadap situasi yang baru.

Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan sudah dimulaisetelah anak lahir  dan akan berlangsung sampai manusia meninggal. Oleh karena itu, proses pendidikan akan berlangsung dalam keluarga, sekolah dan masyarakat. Keuarga merupakan lingkungan utama bagi proses perkembangn seorang individu sekaligus erupakan  peletak dasar kepribadian anak. Seperti melakukan interaksi antara orang tua dan anak, sehingga pendidikan tidak hanya berfungsi menjadikan anak itu pandai saja tetapi mengerti etika sopan santun dan norma-narma yang baik terhadap orang lain.

Pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dalam pendidikan di keluarga. Sekolah merupakan lembaga tempat dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya. Pendidikan menjadikan manusia menyadarkan kita akan pentingnya modal social. Modal social merupakan energy kolektif masyarakat  yang berupa kebersamaan, solidaritas, kerjasama, toleransi, kepercayaan, dan tanggung jawab tiap anggota  masyarakat dalam memainkan setiap peran yang diamanahkan. Bila energy kolektif hancur maka akan hancur pula keharmonisan, keseimbangan, keserasian, dan kelarasan dalam masyarakat.

Dalam kehidupan yang modern seperti saat ini, sekolah merupakan suatu keharusan, karena tuntutan-tuntutan yang  diperlukan bagi perkembangan anak sudah tidak memungkinkan akan dapat dilayani oleh keluarga. Materi yang diberikan di sekolah berhubungan langsung dengan pengembangan pribadi anak, berisikan nilai moral dan agama, berhubungan langsung dengan pengembangan sains dan teknologi, serta pengembangan kecakapan tertentu yang langsung dapat dirasakan dalam pengisian tenaga karja.[6]

Pendidikan dalam pandangan filsafat juga berfungsi  memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yng berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi pada kehidupan nyata. Artinya pendidikan itu terdapat pada kegiatan sehari-hari di praktekan sesuai dengan kenyataan kebutuhan hidup yang semakin berkembang di masyarakat.

Filsafat pendidikan juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau pedagogic.[7]

 

Pada hakikatnya, pendidikan ataupun pendidikan islam adalah suatu proses yang berlangsung secara kontinu dan berkesinambungan. Berdasarkan hal ini, maka tugas dan fungsi yang perlu diemban oleh pendidikan islam adalah pendidikan manusia seutuhnya dan berlangsung sepanjang hayat. Konsep ini bermakna bahwa tugas dan fungsi pendidikan memiliki sasaran pada peserta didik yang senantiasa tumbuh dan berkembang secara dinamis, mulai dari kandungan sampai akhir hayatnya. Secara umum tugas pendidikan islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar. Sementara sebagai pewarisan budaya, tugas pendidikan islam adalah alat transmisi unsur-unsur pokok budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga identitas umat tetap terjaga dan terjamin dalam tantangan zaman.

Untuk menjamin terlaksananya tugas pendidikan islam secara baik, hendaknya terlebih dahulu dipersiapkan situasi kondisi pendidikan yang bernuansa elastic, dinamis, dan kondusif yang memungkinkan bagi pencapaian tugas tersebut. Hal ini berarti bahwa pendidikan islam dituntut untuk dapat menjalankan fungsinya, baik secara structural maupun institusional.

Secara structural, pendidikan islam menuntut adanya struktur organisasi yang mengatur jalannya proses pendidikan, baik pada dimensi vertical maupun horizontal. Sementara secara institusional, ia mengandung implikasi bahwa proses pendidikan yang berjalan hendaknya dapat memenuhi kebutuhan dan mengikuti perkembangan zaman yang terus berkembang[8]

Pendidikan dapat merubah tingkah laku akibat dari proses belajar, Pengertian belajar sendiri dapat disimpulkan sebagai berikut :

Dengan belajar itu diharapkan tingkah laku seseorang akan berubah.

Dengan belajar pengetahuan dan kecakapan seseorang akan bertarnbah.

Perubahan tingkah laku dan penambahan pengetahuan ini di dapat lewat suatu usaha.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam belajar adalah :

Anak yang belajar meliputi faktor fisiologis dan psikologis.

Faktor dari luar :

1). endogen :

fisiologis (kesehatan fisik dan indra)

psikologis :

- adanya rasa ingin tahu.dari siswa.

- kreatif, inovatif de akseleratif

- bermotivasi tinggi.

- adanya sifat kompetitif yang sehat

- kebutuhan akan rasa aman, penghargaan, aktualisasi diri, kasih sayang dan rasa memiliki.

2). eksogen :

instrumental (kurikulum, program, laboratorium)

lingkungan (sosial dan non sosial)

Pusat berlangsungnya pendidikan adalah :

a. Keluarga.

b. Sekolah.

c. Masyarakat.

Ciri-ciri keberhasilan pendidikan pada seseorang dapat terlihat pada :

1. Mengerti benar akan tugasnya dengan baik dan didorong oleh rasa tanggung jawab yang kuat terhadap dirinya serta terhadap Tuhan.

2. Mampu mengadakan hubungan sosial dengan bekerja sama dengan orang lain.

3. Mampu menghadapi segala perubahan dunia karena salah satu ciri kehidupan ialah perubahan.

4. Sadar akan dirinya dan harga dirinya sehingga tidak mudah memperjualbelikan dirinya dan kreatif.

5. Peka terhadap nilai-nilai yang sifatnya rohaniah.

Pribadi manusia tidak dapat dirumuskan sebagai suatu keseluruhan tanpa sekaligus meletakkan hubungannya dengan lingkungan. Jadi kepribadian adalah suatu kesatuan psikofisik termasuk bakat, kecakapan, emosi, keyakinan, kebiasaan, menyatakan dirinya dengan khas di dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Sedangkan peranan pendidik/tutor dalam pengembangan kepribadian adalah menjadi jembatan penghubung atau media untuk mengaktualisasikan potensi psikofisik individu dalam menyelesaikan diri dengan lingkungannya.

Sifat hakekat manusia menjadi kajian antropologi, yang hasilnya sangat diperlukan dalam upaya menumbuh kembangkan potensi, manusia melalui penyelenggaraan pendidikan.

1. Sifat Hakekat Manusia

sifat hakekat manusia merupakan ciri-ciri yang karakteristik, yang secara principal membedakan manusia dengan hewan, walaupun antara manusia dengan hewan banyak kemiripan terutama secara biologis (lihat orang hutan). Karenanya banyak filsuf menamakan manusia identik dengan heawan seperti : Socrates, menyebut manusia Zoon Politico (hewan yang bermasyarakat); Max Schaller ; menyebutkan : Das Krantetier (Hewan Ynag Selalu Bermasalah); demikian pula Charles Darwin dengan teori evolusinya telah membuktikan bahwa manusia berasal dari kera (Primat) tetapi dia gagal yang disebutnya dengan The Missing Link.

2. Wujud sifat Manusia

  • Kemampuan Menyadari diri
    • Dengan kemampuan menyadari diri :

Ø manusia dapat membedakan dirinya dengan manusia lain (ia, mereka) dan dengan lingkungan non manusia (fisik).

Ø Manusia dapat membuat jarak dengan manusia lain dan lingkungannya. Manusia memiliki arah pandangan kedalam dan keluar.

  • Pandangan arah kedalam, akan memberi status lingkungan sebagai subyek berhadapan dengan aku sebagai obyek. (Penting untuk pengembangan sosial)
  • Pandangan arah keluar, memandang lingkungan sebagai obyek, aku sebagai obyek yang memanipulasikan lingkungan untuk aku, berpuncak pada egoisme. (Penting untuk pengembangan individualitet).
  • Dalam pendidikan kedua arah tersebut harus dikembangkan secra seimbang.

3. Kemampuan Bereksistensi

  • Kemampuan bereksistensi dimaksudkan manusia tidak hanya “ber-ada” (seperti hewan dan tumbuhan) tetapi juga “meng-ada” , dimana manusia tidak hanya bagian lingkungan seperti hewan dan tumbuhan tetapi manusia menjadi manajer lingkungan (mengolah, mengendalikan).
  • Kemampuan bereksistensi harus dikembangakan sejak dini, kreatifitas, keberanian, dan lain-lain.

4. Kata Hati (Consuence of Man)

  • Kata hati juga disebut dengan istilah : hati nuranu, lubuk hati, suara hati, pelita hati dan lain sebagainya. Yang berarti kemampuan pada diri manusia untuk mengetahui baik buruknya perbuatan manusia termasuk pula kemampuan pengambilan keputusan atas dasar pertimbangan benar/salah, analisis yang didukung kecerdasan akal budi. Mereka yang memiliki kemampuan seperti tersebut diatas disebut tajam kata hatinya.
  • Pendidikan untuk mengubah kata hati tumpul. Menjadi tajam ditempuh dengan melatih kecerdasan dan kepekaan emosi.

5. Kecerdasan Moral

  • Moral (etika), sinkron dengan kata hati yang tajam, yang benar-benar baik yang disebut juga dengan moral yang tinggi (luhur).
  • Moral bertalian erat dengan keputusan kata hati, dan nilai-nilai kemanusiaan.

6. Tanggung Jawab

  • Kesediaan untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang berwujud tanggung jawab, kepada diri sendiri, masyarakat dan Tuhan.
  •  Keberanian untuk menentukan bahwa sesuatu perbuatan dilakukan sesuai dengan tuntutan kodrat manusia, sehingga sanksi adapun yang di tuntutkan di terima dengan kerelaan dan kesadaran.

7. Rasa Kebebasan

  • Rasa bebas, bukan dimaksud perbuatan bebas membabi buta, bebas dalam arti, berbuat sepanjang tidak bertentangan dengan tuntutan kodrat manusia merdeka tidak sama dengan berbuat tanpa ikatan, kemerdekaan yang sesungguhnya justru berlangsung dalam keterikatan karenanya, kemerdekaan erat kaitannya dengan kata hati dan moral orang merasa merdeka apabila perbuatannya sesuai dengan kata hatinya.
  •  Implikasinya dalam pendidikan, mengusahakan agar anak menginternalisasikan nilai-nilai aturan kedalam dirinya dan dirasakan sebagai miliknya.

8. Kewajiban dan Hak

  • Kewajiban dan hak, merupakan indicator bahwa manusia sebagai mahluk sosial.
  •  Dalam kehidupan hak dimaknai sebagai sesuatu yang menyenangkan, sedangkan kewajiban dimaknai sebagai beban. Tapi menurut (Drijar Kara, 1978) kewajiban bukan beban, tetapi keniscayaan sebagai manusia, mengenal berarti mengingkari kemanusiaan, sebaliknya melaksanakan kewajiban berarti kebaikan.
  • Pemenuhan akan hak dan pelaksanaan kewajiban berkaitan erat dengan keadilan, dapat dikatakan keadilan terwujud bila hak sejalan dengan kewajiban.
  • Kemampuan menghayati kewajiban sebagai keniscayaan tidak lahir dengan sendirinya, tetapi melalui suatu proses pendidikan (disiplin).

9. Kemampuan Menghayati Kebahagiaan

  • Kebahagiaan istilah yang sulit dijabatkan dengan kata-kata, tetapi tidak sulit dirasakan setiap orang pasti pernah mengalami rasa bahagia (senang, gembira dan lain sebagainya).
  • Kebahagiaan milik manusia : kebahagiaan dapat dicapai apabila manusia dapat meningkatkan kualitas hubungannya sebagai mahluk dengan dirinya sendiri (memahami kelebihan dan kekurangannya); dengan alam (untuk eksploitasi dan dilestarikan); dan terhadap Tuhan Maha Pencipta.
  • Pendidikan mempunyai peranan yang penting sebagai wahana untuk mengantar anak mencapai kebahagiaan.

1)      Dimensi-Dimensi Kepribadian

Manusia memiliki karakteristik yang membedakannya dengan hewan, manusia juga memiiki dimensi yang bersifat unik, potensial, dan dinamis.

Ada 4 (empat) macam dimensi manusia :

1. Dimensi Keindividualan

  • Banyak ahli berpendapat tentang individu :

Ø Lysen mengertikan individu sebagai “orang seorang”, sesuatu yang merupakan kebutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi (in divide).

Ø Langeveld M.J (1995), mengertikan tidak ada individu yang identik dimuka bumi walaupun berasal dari satu sel. Setiap orang memiliki individualitas.

  • Kecendrungan perbedaan ini sudah berkembang sejak usia dini. Selanjutnya berkembang bahwa setiap anak memiliki pilihan, sikap kemampuan, bakat minat yang berbeda.
  •  Keberadaan tersebut bersifat potensial perlu ditumbuh kembangkan melalui pendidikan juka tidak ia akan laten dalam pembentukan kepribadian yang bersifat unik dalam menentukan dirinya sendiri.

2. Dimensi Kesosialan

  • Manusia disamping sebagai mahluk individual, dia juga mahluk sosial. Socrates mengatakan manusia adalah “Zoon Politicon” (Mahluk/hewan yang bermasyarakat).
  • Dimensi kesosialan pada manusia tampak jelas pada dorongan untuk bergaul manusia tidak dapat hidup seorang diri (terisolir). Manusia hanya akan menjadi manusia jika berada di antara manusia. Individualitas manusia terbentuk melalui proses interaksi (pendidikan).

3. Dimensi Kesusilaan

  • Manusia adalah mahluk susila. Dritarkara mengatakan manusia susila, yaitu manusia yang memiliki nilai-nilai, menghayati, dan mewujudkan dalam perbuatan.
  • Nilai-nilai adalah sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia, mengandung makna kebaikan, keluhuran kemuliaan dan dijadikan pedoman hidup.
  • Pendidikan kesusilaan berarti menanamkan kesediaan memikil kewajiban disamping hak.

4. Dimensi Keberagaman

  • Manusia adalah mahluk religius. Sejak zaman dahulu nenek moyang manusiameyakini akan adanya kekuatan supranatural yang menguasai hidup alam semesta ini. Untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan kekuatan tersebut ditempuh dengan ritual agama.
  • Beragama merupakan kebutuhan manusia, karena manusia adalah mahluk yang lemah memerlukan tempay bertopang demi keselamatan hidupnya. Agama sebagai sandaran vertikal manusia.
  • Penanaman sikap dan kebiasaan beragama dimulai sedini mungkin, yang melaksanakan dikeluarga dan dilanjutkan melalui pemberian pendidikan agama di sekolah.

2)       Pengembangan Dimensi-dimensi Manusia

Pendidikan adalah upaya sadar untuk mengaktualisasikan potensi dimensi-dimensi secara total dan maksimal. Meskipun pendidikan pada dasarnya baik (normatif) tapi dalam pelaksanaan bisa saja kemungkinan kesalahan, melenceng dari tujuan utama. Untuk itu digunakan pendekatan pengembangan yang bersifat :

1. Pengembangan yang utuh

  • Tingkat keutuhan perkembangan dimensi manusia ditentukan oleh 2 faktor :

Ø Kualitas potensi tingkat manusia.

Ø Kualitas layanan pendidikan yang diberikan untuk pengembangannya.

  • Wujud kebutuhan pengembangan dapat ditinjau dari :

Ø Keutuhan antara aspek jasmani rohani, keutuhan antara dimensia individu dan sosial, kesusilaan dan keberagamaan, antara aspek kognitif afektif psikomotor.

  • Arah pengembangannya

Ø Arah konsentris

Pengembangan keempat dimensi hakekat manusia tidak dipisahkan.

Ø Arah horizontal

Pengembangan hakekat dimensi manusia dilaksanakan secara serempak.

2. Pengembangan yang tidak utuh

Pengembangan yang tidak utuh terjadi apabila dalam proses pengembangan ada unsur D.H.M. yang terabaikan. Misal dimensi kesosialan didominasi keindividualan, atau dimensi domain afektif didominasi pengembangan domain kognitif, demikian juga halnya jika domain afektif terabaikan.

Pengembangan D.H.M yang tidak utuh bisa berakibat kepribadian yang tidak mantap[9]

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • http://nie07independent.wordpress.com/hakikat-manusia/
  • Dr. Al-Rasyidin, M.A & Dr. H. Samsul Nizar, M.A, Filsafat Pendidikan Islam, Ciputat Press, 2005: Jakarta
    • Sofan Amri, S.Pd. da Iif Khoiru Ahmadi, S.Pd., M.Pd. Konstruksi pengembangan pembeljaran. Jakarta : Prestasi Pustaka .
    • Drs. Prasetya. Filsafat Pendidikan . Bandung : Pustaka Setia Bandung .
    • Drs. Uyoh Sadulloh, M. Pd. Pengantar Filsafat Pendidikan . Bandung : Alfabeta Bandung .
    • Dr. Ahmad Tafsir, PENDIDIKAN AGAMA Dalam KELUARGA, Remaja rosdakarya, 2002: Bandung,

 


[2] Dr. Ahmad Tafsir, PENDIDIKAN AGAMA Dalam KELUARGA, Remaja rosdakarya, 2002: Bandung, hlm. 8-9

[3] Drs. Uyoh Sadulloh, M. Pd. Pengantar Filsafat Pendidikan . Bandung : Alfabeta Bandung . Hal 54-56.

[4] Drs. Prasetya. Filsafat Pendidikan . Bandung : Pustaka Setia Bandung . Hal 151.

[5] Sofan Amri, S.Pd. da Iif Khoiru Ahmadi, S.Pd., M.Pd. Konstruksi pengembangan pembeljaran. Jakarta : Prestasi Pustaka . Hal 1.

[6] Sofan Amri, S.Pd. da Iif Khoiru Ahmadi, S.Pd., M.Pd. Konstruksi pengembangan pembeljaran. Jakarta : Prestasi Pustaka . Hal 15-17.

 

[7] Drs. Prasetya. Filsafat Pendidikan . Bandung : Pustaka Setia Bandung . Hal 152.

 

[8] Dr. Al-Rasyidin, M.A & Dr. H. Samsul Nizar, M.A, Filsafat Pendidikan Islam, Ciputat Press, 2005: Jakarta, hlm. 32-33

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s